Tulisan ini aku ikut sertakan dalam
Kontes Blog Berbagi Kisah Sejati yang diadakan oleh
Mba Anaz bekerja sama dengan
http://denaihati.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++Kejadian ini terjadi 9 tahun yang lalu, ketika aku masih kelas 1 SMU.
Siang itu, saat pulang dari sekolah. Aku satu angkot dengan sepasang suami istri.
Dan kebetulan penumpang angkotnya hanya ada 3 orang,
aku dan sepasang suami istri itu (kasihan sopir angkotnya).
“sekarang kita dimana, bu?” Tanya si suami pada istrinya.
“masih di xxx...” si istri menjawab pertanyaan suaminya dengan kasar sekali
(menurut penilaianku)
Si suami celingak-celinguk kebingungan. Dan aku baru tau kalau ternyata si suami
tidak bisa melihat, matanya buta.
“masih lama nyampenya, bu?”
“masih !” si istri menjawab pertanyaan si suami seperti membentak kesal.
Ku amati si suami, dia seperti kebingungan dan tak sabar ingin sampai di tempat tujuan.
Aku menjadi iba.
“sudah sampai belum, bu?” si suami bertanya lagi.
“bapak cerewet banget sih?! Kalo dah sampe pasti ibu kasih tau ! udah diem aja !”
si istri marah-marah. Aku jadi tambah iba pada si suami.
Saat si istri menyuruh sopir untuk berhenti, ada senyum yang kulihat di bibir si suami.
“sudah sampe ya, bu?” tanya si suami sambil meraba-raba tubuh istrinya mencari jalan
untuk turun dari angkot.
“duuhhh...bapak diem dulu! Ibu mau bayar dulu !” si istri menepis tangan suaminya
dengan kasar. Si suami pasrah dan duduk lagi.
“ayo pak, cepetan. Duuhhh ngerepotin aja sih! Ibu kan dah bilang, bapak jangan ikut!
Jadinya repot begini!”
si istri menyuruh si suami turun dari angkot dengan kasar tanpa membantu si suami turun. Aku melihat si suami kebingungan mencari pintu dan pijakan untuk keluar dari angkot.
Aku mengharu biru. Setelah mereka berdua turun, entah kenapa pipi ku jadi basah.
Ternyata aku nangis. Aku sendiri heran, kenapa aku menangis ???
Sampai di rumah, aku menulis seperti janji di diary ku:
Jika Allah mengizinkan ku menikah dengan seorang yang buta
Aku akan menjadi cahaya dalam gelapnya
Aku akan menjadi tongkat bagi tiap langkahnya
Dan aku gak akan pernah meninggalkan dia
Kecuali kematian telah menjemputku.
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
EMPAT TAHUN YANG LALU
Lagi-lagi kejadiannya di dalam angkot. Pagi itu aku mau ke kampus,
dan lagi-lagi angkotnya gak penuh, di dalam angkot hanya ada dua orang
(kasihan sopir angkotnya).

Aku dan seorang bapak yang sudah lebih dulu naik angkot.
Si bapak memakai kacamata hitam, tangan kanannya memegang tongkat.
Tongkat dan kacamata hitam membuat aku menyimpulkan bahwa
si bapak matanya buta
Cukup lama kami diam dan tidak ada kejadian apa pun.
Sampai suara HP milik si bapak berbunyi. Si bapak seperti kebingungan.
Hanya menimang-nimang HP nya. Lalu si bapak bertanya padaku:
”dek, sekarang jam berapa ya?” si bapak berbicara ke aku,
namun kepala dan matanya mengarah ke arah lain.
”jam sembilan lewat dua puluh menit, pak.” aku tersenyum dan aku tau si bapak
tidak bisa melihat senyum ku.
”saya boleh minta tolong, dek?”
”Boleh. Kenapa pak?”
”tolong bacakan sms yang ada di HP saya.” aku jadi paham kenapa si bapak
dari tadi hanya menimang-nimang HP nya.
”tolong di baca siapa pengirimnya, dek.”
Aku menyebutkan nama pengirimnya, nama perempuan.
”oh, itu istri saya. Tolong dibaca dek, apa isi sms nya.”
si bapak senyum dengan semangat.
Lalu aku pun membaca isi sms nya, seingatku kurang lebih seperti ini isinya:
Assalamu’alaikum. Papa hati-hati ya. Mama cemas kalo
papa pergi sendirian. Nanti pulangnya jangan malam-malam.
Mama cinta papa.
Aku tersentuh...
”istri saya memang perhatian dek. Dia suka marah ama saya kalo saya pulang malam.
Tapi mau gimana lagi. Pekerjaan saya jadi tukang pijat keliling mengharuskan saya untuk sering pergi malam. Maklum, mata saya cacat dari lahir.” si bapak tertawa.
Aku diam. Tenggorakanku tersekat. Dan dadaku jadi sesak.
”dek, tolong di balas sms nya ya. Bisa kan?”
Aku masih diam terpaku.
”dek, bisa kan? Tolong balas sms istri saya.”
Bodohnya aku hanya bisa mengangguk, padahal si bapak gak bisa melihat.
Dan terpaksa dia minta tolong untuk ketiga kalinya.
”dek, bisa kan ketikan balasan sms dari istri saya? Saya gak bisa kalo sms,
saya gak bisa lihat. Bisa dek?”
”bisa pak.” aku kaget mendengar suaraku yang berubah menjadi berat.
”tolong ketik, mama gak usah cemas. Insyaallah papa baik-baik aja. Dah itu aja dek.”
Aku mengangguk haru.
”oh iya dek, jangan lupa jawab salam nya dulu ya. Wa’alaikumsalam.
Terus tambahkan di terakhirnya, Papa juga cinta mama.” si bapak tersenyum malu-malu.
Membuat mataku jadi makin mengembun.
“makasih ya dek.”
“iya pak.” Aku mengangguk sambil tersenyum dan air mata ku tumpah di depan si bapak.
Saat si bapak turun lebih dulu, berkali-kali dia mengatakan terima kasih padaku yang
sudah mau membantunya membalas sms dari istrinya.
Dan mataku benar-benar menangis di buatnya.....
Sedangkan hati ku bertasbih....
Subhanallah....
Pasti si bapak, gak pernah melihat wajah istrinya.
Karena bapak itu bilang matanya cacat dari lahir.
Subhanallah....
Sedangkan istrinya...
Tetap ridho dengan keadaan suaminya dan pekerjaan suaminya yang mungkin sebagian masyarakat menganggap menjadi tukang pijat keliling adalah pekerjaan rendahan.
Saling mencintai tanpa memandang fisik....
Si bapak memberi pelajaran hidup padaku....
Jika cinta tidak bisa di lihat, dia masih bisa di rasa.....
Semoga Allah menyayangi orang-orang seperti si bapak dan istrinya....
Aamiin
Aamiin Ya Rabb....
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Elderly City, The 25th of May 2010